Sabtu, 30 Juni 2012

Laporan Praktikum Struktur Hewan "Jaringan Saraf"


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Jaringan yang paling rumut dari tubuh kita adalah jaringan saraf. Kerumitan ini berasal dari kemampuan sel–sel saraf (neuron) untuk berkomunikasi satu sama lain dan dengan jenis sel–sel lain (sel–sel otot, sel–sel kelenjar). Semua sel yang membentuk sau kesatuan kelompok itu berada dalam komunikasi satu sama lain melalui sinyal elektris dan pesan kimiawi yang membantu memelihara kesatuan kelompok sel itu sebagai keseluruhan. Sinyal–sinyal ini mengendalikan pertumbuhan, reparasi dan posisi relative sel–sel.[1]
Akan tetapi jaringan saraf mempunyai fungs utama sebagai pembuat pesan kimiawi (penghantar saraf dan hormon–hormon) dan perkembangan saluran komunikasi untuk koordinaasi fungsi–fungsi tubuh. Jaringan saraf yang merupakan jenis ke-4 dari jaringan dasar terdapat hampir di seluruh jaringan tubuh sebagai jaringan komunikasi. Dalam melaksanakan fungsinya, jaringan saraf mampu menerima rangsang dari lingkungannya, mengubah rangsang tersebut menjadi impuls, meneruskan impuls tersebut menuju pusat dan akhirnya pusat akan memberikan jawaban atas rangsang tersebut.[2] Oleh karena itu, maka dilakukanlah percobaan ini untuk mengetahui struktur histology serta bagian-bagian dari jaringan saraf.

B.  Tujuan Percobaan
Adapun tujuan pada percobaan ini yaitu untuk melihat struktur histology jaringan saraf.

C.  Manfaat Percobaan
Adapun manfaat pada percobaan ini yaitu agar dapat melihat struktur histology dari jaringa saraf.
           



[1]Aqsha, 2012, “Laporan Praktikum Jaringan Saraf, ”. Blog Aqsha. http://aqshabiogger2010.blogspot.com/2012/02/laporan-praktikum-jaringan-saraf.html (26 Mei 2012).

[2]Ibid. 


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Jaringan saraf yang merupakan jenis ke-4 dari jaringan dasar terdapat hampir di seluruh jaringan tubuh sebagai jaringan komunikasi. Dalam melaksanakan fungsinya, jaringan saraf mampu menerima rangsang dari lingkungannya, mengubah rangsang tersebut menjadi impuls, meneruskan impuls tersebut menuju pusat dan akhirnya pusat akan memberikan jawaban atas rangsang tersebut. Rangkaian kegiatan tersebut dapat terselenggara oleh karena bentuk sel saraf yang khas yaitu mempunyai tonjolan yang panjang dan bercabang-cabang. Selain berkemampuan utama dalam merambatkan impuls, sejenis sel saraf berkemampuan bersekresi seperti halnya sel kelenjar endokrin. Sel saraf demikian dimasukkan dalam kategori neroen-dokrin yang sekaligus menjadi penghubung antara sistem saraf dan sistem endokrin.[1]
Jaringan saraf atau sistem saraf menjamin kepekaan hewan terhadap alergi lingkungan, sehingga mampu sadar akan diri dan lingkungannya. Mampu membangkitkan serta mengontrol gerakan otot serta sekresi kelenjar, juga berperan dalam tingkah laku naluri dan lain-lain yang dipelajari. Parenkim jaringan saraf terdiri dari neuron yang ditunjang oleh neuroglia. Neuron merupakan satuan morfologis serta fungsional aktivitas saraf yang juga merupakan unit nutritive, karena secara tidak langsung mampu mempertahankan kehidupan sel-sel dalam organ diinervasinya. Karena neuron tidak mampu lagi mengadakan mitosis pada kehidupan pascanatal, maka umurnya cukup panjang. Seluruh sistem saraf merupakan perpaduan morfologis serta fungsional sehingga menurut konsep dibagi dalam susunan saraf pusat dan susunan saraf perifer.[2]
Semua fungsi di dalam suatu organism diatur dan disesuaikan dengan sangat seksama, dikoordinasikan dengan fungsi organ-organ lainnya, dan diintegrasikan menurut kebutuhan-kebutuhan tubuh. Koordinasi dan integrasi fungsi alat-alat tubuh dilaksanakan oleh sistem saraf (neural) dan sistem endokrin (hormonal). Pada umumnya, sistem saraf mengatur aktivitas tubuh yang berlangsung relative cepat, seperti kontraksi otot dan sekresi kelenjar, sedangkan sistem endokrin dengan pencapaian organ targetnya, relative berlangsung lebih lambat, seperti proses metabolisme. Suatu persambungan antara dua neuron disebut sinaps. Kedua neuron itu biasanya tidak melekat langsung satu dengan yang lain tetapi dipisahkan oleh suatu celah sempit, yang disebut celah sinaps.[3]
Sel saraf dibedakan menjadi beberapa macam yaitu sebagai berikut:
1.    Badan sel
Badan sel yaitu bagian sel saraf yang mengandung inti, maka kadang-kadang bagian ini disebut pula sebagai perikaryon. Bentuk dan ukuran dapat beraneka ragam, tergantung fungsi dan letaknya. Inti sel biasanya terletak sentral, walaupun kadang-kadang dapat eksentrik. Biasanya berbentuk bulat; dan berukuran besar. Di dalamnya terdapat butir-butir khromatin halus yang tersebar. Nukleolus biasanya besar sehingga kadang-kadang dapat disangka sebagai intinya sendiri. Penampilan inti yang demikian merupakan ciri khas dari sel saraf, oleh karena berkaitan erat sekali dengan kegiatan sel saraf. Dalam nukleolus banyak mengandung molekul RNA yang penting untuk kegiatan sel terutama dalam sintesis protein, sehingga mengikat warna basofil.
Sitoplasma sel saraf mengandung berbagai macam organela seperti halnya jenis sel lain.
2.    Dendrit
Merupakan tonjolan-tonjolan dari badan sel saraf yang bercabang-cabang sebagai pohon sehingga memperluas permukaan sel saraf. Pada pangkalnya di badan sel terdapat perluasan substansi Nissl dan mitokhondria, namun nerofibril dan mikrotubuli meluas sampai ujung dendritnya. Dengan pewarnaan khusus menggunakan inpregnasi perak dapat terlihat adanya tonjolan-tonjolan pada permukaan percabangan dendrit yang disebut gemula dan spina. Bangunan tersebut digunakan untuk tempat kontak dengan sel saraf lainnya melalui sinapsis.
Bentuk percabangan dendrit tergantung dari jenis sel sarafnya. Fungsinya merambatkan impuls ke arah badan sel.
3.    Akson
Berbeda dengan tonjolan yang dinamakan dendrit, maka akson merupakan tonjolan yang hanya terdapat sebuah dan berfungsi merambatkan impuls yang meninggalkan badan sel. Bahkan salah satu jenis sel saraf dalam retina yang disebut sel amakrin tidak memiliki axon sama sekali. Axon berpangkal pada badan sel se­bagai suatu bukit kecil yang dinamakan oxon hillock. Di dalam daerah ini tidak terdapat substansi Nissl, karena di daerah ini banyak nerofibril yang akan meninggalkan badan sel.[4]
Interaksi antara zat penghantar dengan reseptor yang bersifat mengeksitasi terjadi suatu mekanisme pengikatan zat penghantar oleh protein tertentu di membrane pascasinaps, yang mengakibatkan adanya pergerakan ion Na+ masuk ke neuron dan melalui mekanisme zat penghantar bergabung dengan reseptor yang mengakibatkan ezim adenilsiklase mengubah ATP menjadi cAMP, kemudian akan mengaktifkan suatu enzim dari neuron pascasinaps terhadap ion Na++. Akibatnya, ion Na++ akan masuk ke sel saraf.[5]





[1]Anonim, 2006, “Jaringan Saraf,  http://histofkgsp.blogspot.com/2006/10/7-jaringan-saraf. html (25 Mei 2012).
[2]Delmann dan Brown, Buku Teks Histologi Veteriner, (Jakarta: UI Press, 1987), h. 172.

[3]Yusminah Hala, Biologi Umum 2, (Makassar: Alauddin Press, 2007), h. 90.
[4]“Bagian dan fungsi Jaringan Saraf”, Sentra Edukasi. http://www.sentra-edukasi. com/2011/07/ html (25 Mei 2012).
[5]Ville, Walker dan Barnes, Zoologi Umum, Jilid I (Jakarta: Erlangga, 1984), h. 115.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN



A.  Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini yaitu :
Hari/tanggal            : Rabu/ 30 Mei 2012
Pukul                      : 10.00 – 12.30 WITA
Tempat                   : Laboratorium Zoologi Lantai II
                                 Fakultas Sains dan Teknologi
                                 Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
                                 Samata – Gowa.

B.  Alat dan Bahan
1.      Alat
Adapun alat yang akan digunakan pada percobaan ini yaitu mikroskop elektron.
2.      Bahan
Adapun bahan yang akan digunakan pada percobaan ini yaitu Ghoat nerve cell smear, Human Sympathetic nerve dan Nerve cell.



C.  Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada percobaan ini yaitu :
1.      Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.      Mengamati bahan satu persatu dibawah mikroskop
3.      Menggambar hasil pengamatan dan memperhatikan perbesaran yang digunakan, mewarnai dan memberi keterangan.
4.      Membersihkan meja praktikum sebelum meninggalkan laboratorium. 


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Pengamatan
1.      Neuron bipolar (Nerve cell)
Perbesaran : 4 x 0,10
keterangan :
1.      Dendrite
2.      Badan sel
3.      Inti sel
4.      Akson






 
            Gambar referensi
                                                                                    Keterangan :
1.      Dendrite
2.      Badan sel
3.      Inti sel
4.      Akson





2.      Pengamatan neuron multipolar (Ghoat nerve cell smear)
Perbesaran : 10 x 0,25
                                                                                     Keterangan :
1.      Dendrite
2.      Badan sel
3.      Inti sel
4.      Akson
5.      Terminal buttons
6.      Nodus ranvier



 
               

            Gambar referensi
                                                                                                            Keterangan :
1.      Dendrite
2.      Badan sel
3.      Inti sel
4.      Akson
5.      Terminal bottons
6.      Nodus ranvier




3.      Pengamatan neuron unipolar (Human sympathetic nerve)
Perbesaran : 10 x 0,25
Keterangan :
1.      Dendrite
2.      Badan sel
3.      Inti sel
4.      Akson




                  
      Gambar referensi
                                                                                                            Keterangan :
1.      Dendrite
2.      Badan sel
3.      Inti sel
4.      Akson






B.  Pembahasan
1.      Pengamatan neuron bipolar (Nerve cell)
Neuron bipolar, sesuai dengan namanya, mempunyai dua cabang pada badan sel sarafnya di sisi yang saling berlawanan. Cabang yang satu berperan sebagai dendrit, sementara yang lain berperan sebagai akson. Karena percabangannya yang demikian ini, maka badan sel saraf neuron bipolar mempunyai bentuk yang agak lonjong/elips. Neuron bipolar umumnya mempunyai fungsi sebagaimana interneuron, yaitu menghubungkan berbagai neuron di dalam otak dan spinal cord.[1]
Pada pengamatan ini, terdapat dendrite yang merupakan uluran sitoplasma yang pendek dan bercabang-cabang serta jumlahnya banyak yang berfungsi untuk menghantar impuls ke badan sel. Badan sel yang merupakan pusat pusat trofik dari sistem saraf. Inti sel yang merupakan  bagian terpenting dari sel dan berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan sel dan pembelahan sel. Dan akson yang merupakan uluran sitoplasma yang panjang dan jumlahnya hanya satu.[2]
2.      Pengamatan neuron multipolar (Ghoat nerve cell smear)
Neuron multipolar adalah jenis sel saraf yang paling umum dan paling banyak ditemui. Sel saraf ini mempunyai dendrit lebih dari satu, namun hanya memiliki sebuah akson. Karena jumlah dendrit pada setiap neuron multipolar bisa bervariasi banyaknya, maka bentuk badan sel saraf multipolar ini seringkali dikatakan berbentuk multigonal. Neuron multipolar umumnya mempunyai fungsi sebagaimana motoneuron, yaitu membawa sinyal/isyarat dari sistem saraf pusat menuju ke bagian lain dari tubuh, seperti otot, kulit, ataupun kelenjar.[3
 Pada pengamatan ini, terdapat dendrite yang merupakan uluran sitoplasma yang pendek dan bercabang-cabang serta jumlahnya banyak yang berfungsi untuk menghantar impuls ke badan sel. Badan sel yang merupakan pusat pusat trofik dari sistem saraf. Inti sel yang merupakan  bagian terpenting dari sel dan berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan sel dan pembelahan sel. Akson yang merupakan uluran sitoplasma yang panjang dan jumlahnya hanya satu. Terminal buttons yang merupakan tempat pelepasan zat kimia yang menyeberangkan impuls ke neuron lain. Ujung akson ini membentuk terminal presinaptik (mengirimkan impuls) dan mengirim impuls ke terminal postsinaptik (menerima impuls). Serta terdapat nodus ranvier merupakan celah diantara akson yang tidak tertutup oleh selubung neurilema dan berfungsi untuk mempercepat penyampaian impuls ke neuron.[4]

3.      Pengamatan neuron unipolar (Human sympathetic nerve)
Neuron unipolar hanya mempunyai satu cabang pada badan sel sarafnya, selanjutnya cabang akan terbelah dua sehingga bentuk dari neuron unipolar akan menyerupai huruf “T”. Satu belahan cabang berperan sebagai dendrit, sementara yang lain sebagai akson. Neuron unipolar ini umumnya mempunyai fungsi sebagaimana sensory neuron yaitu sebagai pembawa sinyal dari bagian tubuh (sistem saraf perifer) menuju ke sistem saraf pusat.[5]
Pada pengamatan ini, terdapat terdapat dendrite yang merupakan uluran sitoplasma yang pendek dan bercabang-cabang serta jumlahnya banyak yang berfungsi untuk menghantar impuls ke badan sel. Badan sel yang merupakan pusat pusat trofik dari sistem saraf. Inti sel yang merupakan  bagian terpenting dari sel dan berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan sel dan pembelahan sel. Dan akson yang merupakan uluran sitoplasma yang panjang dan jumlahnya hanya satu.[6]





[1]“Klasifikasi Neuron”, Shvoong. http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1832952-klasifikasi-neuron/ (25 Mei 2012).
[2]Ibid.
[3]Ibid.
[4]Ibid
[5]Ibid.
[6]Ibid.

BAB V
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Adapun  kesimpulan yang dapat diambil dari prkatikum ini adalah jaringan saraf dibagi menjadi unit fungsional yaitu neuron yang merupakan sel saraf yang terspesialisasi yang mengandung berbagai organel khas yang ditemukan pada kebanyakan sel eukariotik, dan sangat beradaptasi bagi komunikasi berkat penjuluran-penjulurannya yang seperti kabel. Dendrite merupakan penjuluran-penjuluran yang seringkali bercabang-cabangseperti pohon yang menyangkut impuls menuju badan pusat sel. Badan sel merupakan daerah yang lebih tebal di neuron dan mengandung nucleus serta sebagian besar sitoplasma. Dan akson merupakan penjuluran yang mengangkut impuls menjauhi badan sel.
Berdasarkan bentuk percabangannya, neuron dapat dibedakan atas neuron unipolar, neuron bipolar, dan neuron multipolar. Neuron unipolar hanya mempunyai satu cabang pada badan sel sarafnya, selanjutnya cabang akan terbelah dua sehingga bentuk dari neuron unipolar akan menyerupai huruf “T”. Neuron bipolar
sesuai dengan namanya, mempunyai dua cabang pada badan sel sarafnya di sisi yang saling berlawanan. Neuron multipolar adalah jenis sel saraf yang paling umum dan paling banyak ditemui. Sel saraf ini mempunyai dendrit lebih dari satu, namun hanya memiliki sebuah akson.
B.     Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan setelah melakukan praktikum ini adalah agar praktikan lebih teliti dalam melihat objek yang di amati  dan tepat  dalam menggunakan mikroskop.


DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2012. Bagian dan Fungsi Jaringan Saraf. http://www.sentra-edukasi. com/2011/07/ html (Di akses pada 25 Mei 2012).

Anonim, 2012. Klasifikasi Neuron. http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/ 1832952-klasifikasi-neuron/ (Di akses pada 25 Mei 2012).

Delmann dan Brown. Buku Teks Histologi Veteriner I. Jakarta: UI Press, 1987.
Hala, Yusminah. Biologi Umum II. Makassar: Alauddin Press, 2007.
Ville dkk. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga, 1984.
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar