Sabtu, 30 Juni 2012

Laporan Praktikum Taksonomi Invertebrata "Protozoa"


BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Pada dasarnya dalam ilmu taksonomi, seluruh makhluk hidup dikelompokkan ke dalam dua kerajaan (kingdom) yakni kingdom tumbuhan (kingdom plantae) dan kerajaan hewan (kingdom animalia). Pengelompokan tersebut didasarkan atas persamaan ciri-ciri atau persamaannya. Tumbuhan mempunyai ciri-ciri tertentu, yakni mempunyai klorofil (zat hijau daun) dan hewan mempunyai ciri-ciri tersendiri pula yakni dapat bergerak.[1]
Dalam sebuah penelitian ditemukan adanya beberapa makhluk hidup bersel satu yang sekaligus mempunyai ciri-ciri tumbuhan dan ciri-ciri hewan (mempunyai klorofil dan dapat bergerak leluasa). Akhirnya sebagian ahli berpendapat bahwa bahwa makhluk-makhluk hidup ini sebaiknya dikelompokkan ke dalam kingdom animalia, filum protozoa. Di dalam uraian ini, kita mengikuti pendapat yang kedua. Protozoa kita masukkan ke dalam kingdom animalia, kelompok avertebrata.[2]
Oleh karena itu, maka praktikum ini dilakukan untuk organisme-organisme apa saja yang tergolong dalam Protozoa begitupun dengan bagian-bagian serta susunan klasifikasinya.              

B.  Tujuan Percobaan
Adapun beberapa tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu :
1.    Untuk mengamati organisme yang tergolong Protozoa pada berbagai sumber air yang tergenang.
2.    Untuk menggambar bagian-bagiannya serta menuliskan susunan klasifikasinya.


C.     Manfaat Percobaan
Adapun manfaat dilakukannya percobaan ini yaitu agar dapat mengamati organisme yang tergolong Protozoa pada berbagai sumber air yang tergenang dan juga untuk menggambar bagian-bagiannya serta menuliskan susunan klasifikasinya.



[1]Abhy Katsu. 2011.” Makalah Protozoa,”Blog Abhy Katsu. http://abhykatsu.blogspot.com/2011/12/makalah-protozoa.html (11 Mei 2012)
[2]Ibid


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Potozoa merupakan sekelompok makhluk yang bersel tunggal, heterogen, meliputi kurang lebih 50.000 spesies yang telah diberi nama dan 20.000 spesies lainnya telah berupa fosil. Ribuan spesies telah berhasil dideskripsikan sebagai makhluk yang hidup bebas dan sebagiannya lagi hidup secara parasit pada hewan lain terutama hewan tingkat tinggi. Jumlah hewan protozoa dalam suatu tempat sering sangat menakjubkan, misalnya dalam suatu kolom dapat mencapai jutaan hewan bahkan milyaran.[1]
            Protozoa termasuk mikroorganisme (micros=kecil, organisme=makhluk hidup), besarnya antara 3 mikron sampai 100 mikron. Protozoa merupakan penghuni tempat berair/tempat basah, bila keadaan jadi kering akan membuat cyste (kristal). Kegiatan hidup dilakukan oleh sel itu sendiri. Di dalam sel terdapat alat-alat yang melakukan kegiatan hidup. Alat-alat itu misalnya : inti (nukleus), butir inti (nukleolus), rongga (vacuola), dan mitokondria. Protozoa hanya dapat hidup dari zat-zat organik, merupakan konsumen dalam komunitas, mereka memakan bakteri/mikroorganisme lain/sisa-sisa organisme. Di perairan umumnya merupakan zoo plankton.[2]
             Menurut Mukayat Djarubito Brotowidjojo[3]protozoa hidup di dalam air tawar, dalam air laut, tanah yang lembab, atau dalam tubuh hewan yang lain. Protozoa terbagi menjadi 5 kelas, yaitu :
A.  Kelas Sarcodina (Rhizopoda)
Rhizopoda bergerak dan makan dengan menggunakan pseudopodia (kaki semu). Hewan-hewan anggota kelas ini bersifat amoeboid, yaitu bentuk tubuhnya tidak tetap (selalu berubah-ubah) karena aliran protoplasma yang membentuk pseudopodia (kaki semu). Tidak semua anggota Rhizopoda itu telanjang seperti amoeba, misalnya Foraminifera yang tubuhnya berselubung. Foraminifera sebagai fosil sangat berguna untuk menentukan umur lapisan batu-batuan, jadi penting dalam geologi dan arkeologi. Beberapa contoh Rhizopoda antara lain : Amoeba sp, Foraminifera,Radiolaria, dan Nonion (seekor foraminifera).
B.   Kelas Mastigophora (Flagellata)
Hewan-hewan yang termasuk kelas ini mempunyai satu atau lebih flagela (bulu cambuk). Bentuk tubuh lebih tetap tanpa rangka luar, tubuhnya dilindungi oleh suatu selaput yang fleksibel yang disebut pellice, di sebelah luarnya terdapat selaput plasma. Hidup di air tawar, di laut atau parasit pada organisme lain/manusia. Contoh hewan anggota kelas ini yaitu Euglena, Volvox, Tripanosoma, dan Trichomonas.
C.  Kelas Infusoria (Ciliata)
Hewan-hewan anggota kelas ini mmpunyai ciliata (rambut getar) untuk brgerak atau mencari makan. Hidupnya mandiri atau sebagai komensal dalam saluran pencernaan herbivora dan sebagainya. Ciliata hidup di air tawar yang banyak mengandung bakteri atau zat-zat organik. Adapun contoh hewan dari Ciliata antara lain yaitu Paramecium sp., Balantidium, Didinium, dan Vorticella.
D.  Kelas Sporozoa
Umumnya hewan-hewan ini tidak mempunyai alat gerak dan hidupnya parasit di dalam darah, dalam saluran usus, atau dalam jaringan tubuh lainnya. Berbiak dengan spora dan berlangsung cepat. Penyakit malaria pada manusia dan hewan, penyakit mencret berdarah pada unggas disebabkan oleh hewan-hewan anggota kelas ini. Contoh hewan dari kelas ini yaitu : Plasmodium sp, Babesia dan Theileria.
E.   Kelas Suctoria
Bentuk muda hewan ini mempunyai cilia yang oleh karena itu beberapa ahli memasukkannya dalam kelas ciliata. Bentuk dewasanya hidup mandiri, mempunyai tentakel dan melekat pada sesuatu benda dengan tentakelnya. Beberapa jenis bersifat parasitis. Tentakel berguna untuk menusuk atau menghisap dan tidak mempunyai cilia. Cara makannya bersifat holozoik. Reproduksi dengan pembentukan tunas-tunas. Adapun contoh hewan dari kelas ini yaitu : Acineta dan Ephelota.
Selain itu sebagai predator, mereka memangsa uniseluler atau berserabut ganggang, bakteri, dan mikrofungi. Protozoa memainkan peran baik sebagai herbivora dan konsumen di dekomposer link dari rantai makanan. Protozoa juga memainkan peranan penting dalam mengendalikan populasi bakteri dan biomas. Protozoa dapat menyerap makanan melalui membran sel mereka, beberapa, misalnya amoebas, mengelilingi dan menelan makanan itu, dan yang lain lagi memiliki bukan atau "mulut pori-pori" ke mana mereka menyapu makanan. Semua protozoa yang mencerna makanan di perut mereka seperti kompartemen disebut vakuola.[4]
            Semua protozoa mempunyai vakuola kontraktil. Vakuola dapat berperan sebagai pompa untuk mengeluarkan kelebihan air dari sel, atau untuk mengatur tekanan osmosis. Jumlah dan letak vakuola kontraktil berbeda pada setiap spesies. Protozoa dapat berada dalam bentuk vegetatif (trophozoite), atau bentuk istirahat yang disebut kista. Protozoa pada keadaan yang tidak menguntungkan dapat membentuk kista untuk mempertahankan hidupnya. Saat kista berada pada keadaan yang menguntungkan, maka akan berkecambah menjadi sel vegetatifnya. Protozoa tidak mempunyai dinding sel, dan tidak mengandung selulosa atau khitin seperti pada jamur dan algae. Kebanyakan protozoa mempunyai bentuk spesifik, yang ditandai dengan fleksibilitasektoplasma yang ada dalam membransel. Beberapa jenis protozoa seperti Foraminifera mempunyai kerangka luar sangat keras yang tersusun dari Si dan Ca.[5]
           



[1]Maskoeri Jasin, Zoologi Invertebrata, (Surabaya: Sinar Wijaya, 1992), h.31.
[2]Adun Rusyana, Zoologi Invertebrata, (Bandung: ALFABETA cv, 2011), h.05.
[3]Mukayat Djarubito Brotowidjojo, Zoologi Dasar,(Jakarta: Erlangga, 1989), h.60.
[5]Intan Dian Husada. 2011. “Sifat Umum Protozoa,” Blog Intan Dian Husada. http://intandianhusada.blogspot.com/p/protozoa-sifat-umum-protozoa.html



BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN


A.     Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini yaitu :
Hari/tanggal         : Senin/14 Mei 2012
Pukul                    : 13.00 – 15.00 wita
Tempat                 : Laboratorium Biologi Zoologi Lantai Dua
                                      Fakultas Sains dan Teknologi
                                      UIN Alauddin Makassar 

B.      Alat dan Bahan
1.      Alat
Adapun alat yang akan digunakan dalam percobaan yaitu deck glass mikroskop biasa, pipet pasteur (pipet halus), dan tissue.
2.      Bahan
Adapun bahan yang akan digunakan dalam percobaan yaitu air comberan (got), air dasar kolam/aquarium, air sawah, dan lendir.

C.     Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada percobaan ini yaitu :
1.   Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.   Mengambil sampel air dengan menggunakan pipet, kemudian dengan hati-hati meletakkannya di atas objek gelas lalu mengamati pada mikroskop (mengusahakan mulai pada perbesar terkecil).
3.   Setelah mendapatkan organisme pada berbagai air kemudian memperhatikan perbesaran yang digunakan.
4.   Menggambar organisme tersebut, mengamati struktur morfologi dan anatomi dari organisme yang ditemukan, mencatat jenis, perbesaran, atau arah pergerakannya.
5.   Membersihkan meja praktikum sebelum meninggalkan laboratorium.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


A.  Hasil Pengamatan
1.      Pada air sawah
Paramecium sp (Perbesaran 10 x 0,25)
                                                                                          Keterangan:
1.      Lekuk mulut
2.      Crystome
3.      Cytopharinx
4.      Lubang anal
5.      Mikronukleus
6.      Makronukleus
7.      Vakuola makanan
8.      Vakuola kontraktil
9.      Cilia
 
2.      Pada air dasar kolam/aquarium
Euglena viridis(Perbesaran 10 x 0,25)
                                                                                                                         Keterangan :
1.      Flagel (bulu cambuk)
2.      Bintik mata
3.      Vakuola kontraktil
4.      Kloroplas
5.      Nukleus
6.      Vakuola makanan
7.      Mitokondria
8.      Pelikel

3.      Pada air comberan (air got)
Stylonychia mytilus(Perbesaran 10 x 0,25)
                                                                                          Keterangan :
1.    Frontal cirri
2.    Ventral cirri
3.    Transverse cirri






4.      Pada air lendir
Spirostomum sp(Perbesaran 10 x 0,25)
                                                                                          Keterangan :
1.      Makronukleus ovoide
2.      Vakuola
3.      Makronukleus moniliforme
4.      Peristome


B.  Pembahasan
1.      Pada air sawah (Paramecium sp)
a.       Morfologi
Paramecium ini berukuran sekitar 50-350 ɰm.yang telah memiliki selubung inti (Eukariot). Protista ini memiliki dua inti dalam satu sel, yaitu inti kecil (Mikronukleus) yang berfungsi untuk mengendalikan kegiatan reproduksi, dan inti besar (Makronukleus) yang berfungsi untuk mengawasi kegiatan metabolisme, pertumbuhan, dan regenerasi. Sistem reproduksi pada protista yaitu secara aseksual (membelah diri dengan cara transversal), dan seksual (dengan konjugasi). Paramecium bergerak dengan menggetarkan silianya, yang bergerak melayang-layang di dalam air. Cara menangkap makanannya adalah dengan cara menggetarkan rambut (silianya), maka terjadi aliran air keluar dan masuk mulut sel. Saat itulah bersamaan dengan air masuk bakteri bahan organik atau hewan uniseluler lainnya. memiliki vakuola makanan yang berfungsi untuk mencerna dan mengedarkan makanan, serta vakuola berdenyut yang berguna untuk mengeluarkan sisa makanan.
b.      Anatomi
Paramecium memiliki bentuk oval, sandal, bulat di bagian depan / atas dan menunjuk di belakang / bawah.  Kulitnya tipis dan elastis.Adapun yang menutupi kulit tipis adalah rambut-rambut kecil banyak, yang disebut silia. Lubang bagian belakang disebut pori anal. Pada bagian luar paramecium ditemukan vakuola kontraktil dan kanal.Dan bagian dalam paramecium terdapat sitoplasma, trichocysts, kerongkongan, vakuola makanan, macronucleus dan mikronukleus itu sendiri. Paramecium sering disebut sepatu animalcules karena bentuknya seperti sepatu.
Reproduksi aseksual biasanya oleh pembelahan biner melintang, kadang-kadang seksual dengan konjugasi, dan jarang oleh endomixis, proses nuklir yang melibatkan reorganisasi total DNA organisme individu. Macronuclear di Paramecium memiliki gen kepadatan tinggi sangat. macronucleus dapat berisi sampai 800 eksemplar dari setiap gen. Paramecia berlimpah-limpah di kolam air tawar di seluruh dunia; satu spesies hidup di perairan laut.
Paramecium memakan mikroorganisme seperti bakteri, alga, dan ragi.paramecium menggunakan silia untuk menyapu makanan bersama dengan air ke dalam mulut sel setelah jatuh ke dalam alur lisan. Makanan berjalan melalui mulut ke dalam tenggorokan dalam sel. Jika ada cukup makanan di dalamnya sehingga telah mencapai ukuran tertentu, melepaskan diri dan membentuk vakuola makanan.  Vakuola makanan berjalan menuju sel. Lalu bergerak sepanjang enzim dari sitoplasma masuk vakuola dan mencernanya.Makanan dicerna kemudian masuk ke dalam sitoplasma dan vakuola semakin kecil dan lebih kecil. Ketika vakuola mencapai pori anal limbah sisa belum dicernakan akan dihapus.
Paramecium dapat mengeluarkan trichocyts ketika mereka mendeteksi makanan, dalam rangka untuk lebih menangkap mangsanya.Trichocyts ini diisi dengan protiens.Trichocysts juga dapat digunakan sebagai metode pertahanan diri.Paramecium adalah heterotrophs.bentuk umum mereka dari mangsanya adalah bakteri. Organisme tunggal memiliki kemampuan untuk makan sehari 5.000 bakteri.Mereka juga dikenal untuk makan ragi, alga, dan protozoa kecil ambil.Paramecium mangsanya melalui fagositosis.
c.       Habitat
Habitat dari Paramecium sp yaitu hidup di perairan, biasanya stagnan, air hangat.Spesies Paramecium bursaria bentuk hubungan simbiotik dengan ganggang hijau.Ganggang ini hidup di sitoplasma nya.fotosintesis ganggang menyediakan sumber makanan untuk Paramecium. Beberapa spesies membentuk hubungan dengan bakteri.Mereka tidak bisa tumbuh di luar organisme ini.Spesies ini mengakuisisi-shock perlawanan panas ketika terinfeksi obtusa Holospora, yang berkontribusi terhadap gerakan silia. Paramecium juga dikenal sebagai mangsa untuk Didinium sp.
d.      Klasifikasi
Adapun klasifkasi Paramecium sp yaitu :
Kingdom               : Protista
Filum                     : Ciliophora
Class                      : Ciliatea
Subkelas                : Rhabdophorina
Ordo                      : Peniculida
Subordo                : Hymenostomatida
Family                   : Parameciidae
Genus                    : Paramecium
Species                  : Parameciumsp                                   (Anonim, 2011)
2.      Pada air dasar kolam/aquarium (Euglena viridis)
a.       Morfologi
Euglenoida memiliki  tubuh yang menyerupai gelendong dan diselimuti oleh pelikel Euglena viridis. Ukuran tubuhnya 35 – 60 mikron dimana ujung tubuhnya meruncing dengan satu bulu cambuk. Hewan ini memilki stigma (bintik mata berwarna merah) yang digunakan untuk membedakan gelap dan terang. Euglena juga memiliki kloroplas yang mengandung klorofil untuk berfotosintesis. Euglena memasukkan makanannnya melalui sitofaring menuju vakuola dan ditempat  inilah makanan yang berupa hewan – hewan kecil dicerna.
b.      Anatomi
Euglena memiliki satu flagella yaitu ekor sebagai alat gerak, satu panjang dan satu pendek organieme ini dapat melakukan simbiosis dengan jenis ganggang tertentu dan tubuhnya dapat memancarkan sinar bila terkena rangsangan mekanik. Untuk reproduksi Euglena berkembang biak secara vegetatif, yaitu dengan pembelahan biner secara membujur. Pembelahan ini dimulai dengan membelahnya nukleus menjadi dua. Selanjutnya flagel dan sitoplasma serta selaput sel juga terbagi menjadi dua. Akhirnya terbentuklah dua sel euglena baru. Sistem sirkulasi euglena mengambil zat organik yang terlarut di sekitarnya. Pengambilan zat organik dilakukan dengan cara absorbsi melalui membran sel. Selanjutnya, zat makanan itu dicernakan secara enzimatis di dalam sitoplasma.
c.       Habitat
Euglena  berhabitat di habitat air tawar dan melimpah di daerah ini, seperti di kolam peternakan atau parit saluran air, yang mengkonsumsi kotoran binatang.
d.      Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Euglena viridis adalah sebagai berikut :
Kingdom    : Excavata
Divisi          : Eugnelophycota
Class          :  Euglenoidea
Ordo           : Euglenales
Family        : Euglenaceae
Genus         : Euglena
Species       : Euglena viridis                                  (Anonim, 2011)
3.      Pada air comberan (Stylonychia mytilus)
a.      Morfologi
       Stylonychia mytilus merupakan genus dari Ciliata, dan termasuk diantara stichotrichs.. Stylonychia memilki cilia yang dikelompokkan menjadi membranelles bersama dengan mulut dan cirri tubuh. Hal ini dibedakan antara lain dengan cirri panjang pada bagian posterior dan biasanya terdiri dari tiga kelompok. Yang terbesar hanya dapat dilihat pada pembesaran 25 x sedangkan yang terkecil dapat dilihat pada pembesaran. Untuk yang dapat dilihat pada pembesaran 450 x merupakan karnivora dan memangsa protozoa lainnya seperti Uroncentrum.
b.      Anatomi
       Stylonychia berbentuk oval jika dilihat pada bagian atas dan itu berfungsi untuk aktivitas gencarnya dan juga gerakannya cepat. Seperti halnya dengan Paramecium sp yang memiliki gerakan yang cepat dan juga genus Ciliata (memiliki rambut pendek seperti ekstensi). Cilia pada stylonychia sangat khusus dan tidak bebas didistribusikan melalui tubuhnya.
c.       Habitat
       Habitat Stylonychia mytilus biasanya terdapat pada air tawar dan tanah, ditemukan pada lumut, dan juga diantara partikel sedimen. Selain itu, mereka juga biasanya berenang di/melalui vegetasi yang membusuk sampah kolam yang mengambang pada air.

d.      Klasifikasi
             Adapun klasifikasi dari Stylonychia mytilusyaitu :
            Kingdom         : eukariyota
            Divisi               : Choromalveolata
            Kelas               : Spirotrichea
            Ordo                : Sporadotrichida
            Family             : Oxytrichidae
            Genus             : Stylonychia
            Species            : Stylonychia mytilus                                        (Anonim, 2011)
4.      Pada air lendir (Spirostomum sp)
a.       Morfologi
       Spirostomum sp merupakan genus dari protista dan juga kelas dari Heterotrichea.Anggota genus ini sangat kontraktil. Ketika terkejut, Spirostomum ambiguum dapat kontrak sampai kurang dari setengah panjang diperpanjang dalam waktu 1/200 per detik (kecepatan kontraksi mirip dengan yang ada pada Vorticella Ciliata). Seperti kontrak, korteks sel liku dan melebar, dan struktur spiral nya menjadi terlihat.
       Mekanisme kontraktilitas Spirostomum yang pertama kali dipelajari oleh Ernst Haeckel pada tahun 1873 dan terus menarik perhatian ilmiah.  Spesies tertentu telah terbukti sensitif terhadap keberadaan logam berat, dan telah digunakan oleh ahli ekologi sebagai indikator kemurnian air.
b.      Anatomi
       Ciri-cirinya memanjang, fleksibel dan juga sangat kontraktil. Meskipun uniseluler, anggota dari beberapa spesies dapat tumbuh selama 4 mm. Tubuh selnya panjang dan seperti cacing. Penampangnya seperti silinder tetapi dapat diratakan pada ujung ekornya. Vakuola ekskretoris posterior besar dan dapat mengisi seluruh “ekor”. Cilia pada sel tubuhnya pendek dan juga dapat diatur dalam baris membujur. Panjang peristome nya bervariasi antar spesies dan sekitar ¼ sebanyak 2/3 panjang selnya.
       Peristome dibatasi dengan membarn yang digunakan untuk menyalurkan partikel makanan ke rongga mulut makhluk itu. Para makronukleus mungkin moniliform (seperti string manik-manik) atau oval tetapi tergantung pada spesies. Spirotomum bereproduksi dengan pembelahan biner. Reproduksi mungkin murni aseksual atau mungkin mengikuti konjugasi dimana individu kawin dengan cara berkumpul dan mentransfer materi genetiknya pada rantai sitoplasma. Anggota genus sangat kontraktil.
c.       Habitat
Spesies Spirostomum biasanya ditemukan ada air tawar.
d.      Klasifikasi 
                         Adapun klasifikasi dari Spirostomum sp yaitu :
Kingdom    : Eukaryota
Filum          : Ciliophora
Kelas           : Heterotricha
Famili          : Spirostomidae
Genus         : Spirostomum
Spesies        : Spirostomum sp (Anonim, 2012)

 
BAB V
PENUTUP

A.  Kesimpulan
            Adapun kesimpulan pada percobaan ini yaitu organisme yang tergolong protozoa pada beberapa sampel air yang tergenang yaitu pada air sawah terdapat Paramecium sp, pada air dasar kolam/aquarium terdapat Euglena viridis, pada air comberan/air got terdapat Stylonychia mytilus, dan pada air lendir (yang terdapat pada wc/kamar mandi) terdapat Spirostomum sp.

B.  Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan setelah melakukan praktikum ini adalah agar praktikan lebih memperhatikan kondisi bahan, agar organisme yang diamati lebih banyak


DAFTAR PUSTAKA

Abhy, 2011. Makalah Protozoa. http://abhykatsu.blogspot.com/2011/12/makalah-       protozoa.html ( Di akses pada 12 Mei 2012 ).

Anonim, 2011. Protozoa. http://id.wikipedia.org/wiki/Protozoa (Di akses pada 11 Mei 2012). 

Anonim, 2011. Sifat Umum Protozoa. http://intandianhusada.blogspot.com/protozoa-sifat-umum-protozoa.html (Di akses pada 11 Mei 2012).

Brotowidjojo, Mukayat Djarubito. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga, 1989.
Jasin, Maskoer. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya, 1992.
Rusyana, Adun. Zoologi Invertebrata. Bandung: ALFABET, 2011.


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar